Langsung ke konten utama

Cara Menjadi Pengusaha Sukses [Publikasi 1]

Panduan Dropship 300x250

Membahas Cara Menjadi Pengusaha Sukses (entrepreneur), kita tidak bisa menentukan rumusan pasti mengenai kedua hal tersebut. Banyak sudah pakar dan praktisi bisnis yang mempublikasikan rumusan Cara Menjadi Pengusaha Sukses, dan semua rumusan itu berbeda satu dengan yang lain.

Namun saya pribadi mencoba menarik benang merah dari berbagai referensi tentang entrepreneurship, dan menuangkannya dalam sajian artikel blog My Tips on Buying Ultrabook yang semoga dapat bermanfaat buat sahabat pembaca sekalian. Berikut uraian tentang cara berpikir dan mental seorang entrepreneur.

3 Cara Berpikir Seorang Entrepreneur
 
  1. Berpikir untuk memberikan nilai tambah suatu barang atau jasa. Seorang entrepreneur adalah sosok yang senantiasa berpikir kreatif dan inovatif ketika mendapati suatu permasalahan atau melihat potensi di lingkungan sekitarnya. Dengan kreativitas dan inovasi, ia mampu memberikan nilai tambah suatu barang atau jasa untuk mendapatkan nilai ekonomis dari keduanya.
  2. Berpikir untuk menumbuhkembangkan usaha dengan kerja sama. Seorang entrepreneur adalah sosok yang senantiasa berpikir untuk mencari solusi atas kendala dan hambatan. Dengan mencari solusi atas kendala dan hambatan dalam berwirausaha, ia mampu menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang dapat mendukung tumbuh kembang usahanya.
  3. Berpikir untuk memotivasi lingkungan sekitarnya untuk maju bersama. Seorang entrepreneur adalah sosok yang senantiasa berpikir untuk memajukan lingkungan sekitarnya. Dengan tekad untuk memajukan lingkungan sekitarnya, ia mampu memotivasi lingkungan sekitarnya untuk maju bersama dalam membangun kemandirian ekonomi.
3 Mental Yang Harus Dimiliki Seorang Entrepreneur 
  1. Bermental baja. Seorang entrepreneur harus memiliki mental baja dan tidak boleh rapuh ketika mengalami kegagalan, karena kegagalan adalah sebuah proses pembelajaran yang pasti akan dilalui dalam berwirausaha. Sehingga apabila seorang entrepreneur rapuh, ia akan merasakan putus asa dan berhenti sebelum mencapai kesuksesan dalam berwirausaha.
  2. Bermental mandiri. Seorang entrepreneur harus memiliki mental mandiri dan tidak boleh menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain, karena kemandirian adalah prinsip untuk senantiasa berusaha dengan kemampuan terbaiknya dan memposisikan orang lain sebagai mitra berwirausaha. Sehingga apabila entrepreneur menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain, ia tidak akan merdeka.
  3. Bermental juara. Seorang entrepreneur harus memiliki mental juara dan tidak sekedar mengekor kesuksesan orang lain, karena menjadi juara adalah pemicu seorang entrepreneur untuk senantiasa selangkah lebih maju dibandingkan kompetitornya. Sehingga apabila seorang entrepreneur mengekor kesuksesan orang lain, ia tidak akan bisa melampaui kesuksesan kompetitornya.
Itulah uraian cara berpikir dan mental seorang entrepreneur yang bisa sahabat pembaca terapkan dalam memulai wirausaha. Keenam poin tersebut bukanlah hal yang mutlak, karena bisa saja sahabat pembaca sekalian akan menemukan cara berpikir dan mental seorang entrepreneur dari pengalaman ketika menjalankan sebuah usaha.

Sampai bertemu kembali dalam artikel menarik lainnya tentang entrepreneurship. Sahabat pembaca blog My Tips on Buying Ultrabook bisa menandai artikel ini dengan fasilitas bookmark yang terdapat di browser internet apapun yang sahabat gunakan. Dengan menandai artikel ini, sahabat pembaca akan lebih mudah untuk menemukan blog ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIMANA KEBAHAGIAN ITU SEBENARNYA?

John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan. Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan? (Kalau satu arah mah namanya khotbah :) Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, ...

HIDUP UNTUK MEMBERI

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta . Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi. Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, k...

Karena Aku Atau Pencak Silat?

Qory Aninditya Putri, nama yang cantik bukan untuk remaja berumur 13 tahun? Yap! Sesuai namanya, ia memang remaja cantik dan periang. Mungkin ia adalah remaja yang sangat beruntung karena dilahirkan dari keluarga berada. Seperti layaknya orang kebanyakan, namanya anak sematawayang pasti akan dimanja, begitu juga dengan Qory. Karena terlalu dimanja, ia pun menjadi anak yang konsumtif dan sombong. Ia harus berbelanja barang barang branded, pergi kemana mana harus naik mobil pribadi, dan enggan bergaul dengan teman yang menurutnya tidak selevel dengannya. Mentari pagi turut menghampiri hari Qory, seperti biasa ia sedang sarapan dan bersiap untuk berangkat sekolah. Sebenarnya, Qory ingin sekali diantar oleh papa dan mamanya, namun ia tahu pasti nmereka selalu beralasan sibuk kerja. Dan ia pun terbiasa berangkat sekolah diantar oleh supir pribadinya. “berangkat sekarang, pak!” kata Qory kepada pak Jo supirnya. “baik, non.” Kata pak jo. Qory pun berangkat sekolah dengan mobil pribadinya yan...