Langsung ke konten utama

Refleksi Hari Pahlawan

Jadilah Pahlawan Buat Keluarga!

Beban hidup yang semakin berat jangan anda biarkan berlarut-larut! Berbuatlah yang terbaik, salah satunya dengan membangun bisnis sebagai tambahan penghasilan dimulai dari sini. Ambil peluang bisnis anda sekarang!

Menyambut kembali peringatan momentum bersejarah yaitu pertempuran 10 November di Surabaya, sudah selayaknya kita menyelami kembali makna Hari Pahlawan dan kepahlawanan itu sendiri. Karena siapa lagi yang mau peduli kalau bukan kita sebagai generasi muda yang meneruskan perjuangan para pahlawan?

Terlepas dari berbagai problematika yang dialami oleh generasi muda Indonesia, pada dasarnya generasi muda tetap harus berjuang untuk survive di tengah gempuran globalisasi yang membawa dampak degenerasi yang sangat luar biasa! Kenapa begitu?

Karena globalisasi adalah misi terselubung imperialis yang dikemas untuk menguasai bangsa Indonesia.

Mang makanan apaan tuh "imperialis"?

Wah... kalau generasi muda kayak yang satu ini, bisa-bisa mati konyol kena tipu daya para penjajah yang namanya imperialis. Mau tau apa itu imperialis? Kalau ente tau arti sebenarnya, bisa bergidik (sama dengan merinding) ente dibuatnya.

Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri (Wikipedia Indonesia).

Nah para pelaku imperialisme inilah yang dikenal dengan imperialis. Mau tau mana saja negara-negara yang menerapkan prinsip tersebut, baik secara terang-terangan maupun samar? Tidak lain dan bukan adalah Amerika Serikat. Nah lho, ada yang nggak terima negara favoritnya dituduh imperialis. Lha kenyataannya begitu kok, mau gimana lagi.

Dengan membuka sedikit pandangan buat generasi muda yang mungkin termasuk pembaca sekalian, maka sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai menghadapi tipu daya imperialis yang genderang perangnya akan ditabuh saat penerapan perdagangan bebas di seluruh negara di dunia. Kalau tidak mau terlena dan mati perlahan di lumbung padi sendiri.

Trus... kita harus ngapain donk?!

Eits, sudah pada panas neh? Kalem mas bro... hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah membangun 3 pondasi benteng diri dan lingkungan yang meliputi :
  1. Pola pikir. Jangan suka yang praktis-praktis aja. Kalau mau sukses di era sekarang ini kudu mikir strategi. Dengan pola pikir yang strategis dalam kehidupan pribadi kita juga lingkungan, maka impian sukses kita akan berakhir pada kontribusi yang akan mengubah diri kita dan lingkungan ke arah yang lebih baik. Baik yang sebenarnya, bukan yang abal-abal. Contoh : kalau kita mau jadi wakil rakyat, jangan cuma bisa pencitraan doang. Kalau pencitraan doang, anak kecil aja bisa ngelakonin. Kayak kalo lagi ada maunya, manis-manis sama ortu.
  2. Sikap. Saatnya bersikap positif dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah besar kalau generasi muda punya sikap egepe (kalau dipanjangkan "emang gue pikirin?"). Juga jargon yang suka dikampanyekan soimah, "emang masalah buat elo?" Haduh! Orang Indonesia yang satu ini nambah parah budaya generasi muda. Mulailah dengan sikap saling tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari, biar itu nolongin cewek gebetan. Tapi yang lebih luar biasa lagi, nolonginnya pas ngadain acara amal buat santunan 1.000 anak yatim. Busyet! dah...
  3. Kemandirian. Kemandirian harus dimiliki! Karena dengan kemandirian, kita tidak akan sengsara ketika diboikot oleh para imperialis dan antek-anteknya. Contoh : ketika kita terbiasa menggunakan produk dalam negeri maka ketika produk impor tak lagi ada, kita pun tak ambil pusing. Malah gempuran produk impor tidak akan membuat kita terpengaruh. Apalagi kita sebagai generasi muda Indonesia menemukan inovasi produk unggulan yang bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat, maka selamat tinggal produk impor.
Ketiga pondasi inilah yang akan memperkuat benteng diri kita dan lingkungan dalam menghadapi globalisasi. Selamat Hari Pahlawan,

Jadilah pahlawan dengan langkah kecil berdampak besar untuk perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Mari sampaikan pandangan anda melalui kolom komentar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DARIMANA KEBAHAGIAN ITU SEBENARNYA?

John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan. Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan? (Kalau satu arah mah namanya khotbah :) Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, ...

HIDUP UNTUK MEMBERI

Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta . Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi. Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, k...

Karena Aku Atau Pencak Silat?

Qory Aninditya Putri, nama yang cantik bukan untuk remaja berumur 13 tahun? Yap! Sesuai namanya, ia memang remaja cantik dan periang. Mungkin ia adalah remaja yang sangat beruntung karena dilahirkan dari keluarga berada. Seperti layaknya orang kebanyakan, namanya anak sematawayang pasti akan dimanja, begitu juga dengan Qory. Karena terlalu dimanja, ia pun menjadi anak yang konsumtif dan sombong. Ia harus berbelanja barang barang branded, pergi kemana mana harus naik mobil pribadi, dan enggan bergaul dengan teman yang menurutnya tidak selevel dengannya. Mentari pagi turut menghampiri hari Qory, seperti biasa ia sedang sarapan dan bersiap untuk berangkat sekolah. Sebenarnya, Qory ingin sekali diantar oleh papa dan mamanya, namun ia tahu pasti nmereka selalu beralasan sibuk kerja. Dan ia pun terbiasa berangkat sekolah diantar oleh supir pribadinya. “berangkat sekarang, pak!” kata Qory kepada pak Jo supirnya. “baik, non.” Kata pak jo. Qory pun berangkat sekolah dengan mobil pribadinya yan...